Daerah Kepulauan Butuh Alat Deteksi Dini Bencana PDF Print E-mail
Friday, 15 January 2010 13:52
Sejumlah daerah kepulauan di Provinsi Sulut, sangat membutuhkan alat deteksi dini bencana alam, baik gempa bumi, tsunami, badai dan sebagainya.

"Hampir setiap saat beberapa kepulauan di bagian utara Sulut, seperti Kabupaten Talaud, Sangihe dan Sitaro selalu mengalami bencana alam namun terlambat untuk ditangani," kata Ketua DPRD Sulut Meiva Lintang, di Manado, Jumat (15/1/2010).


Kondisi itu menyebabkan sejumlah warga harus rela dievakuasi ke tempat aman, guna menghindari dampak buruk dan lebih parah.

Lintang mencontohkan, musibah banjir di Kabupaten Sangihe atau tepatnya di Kampung Laine dan Tatilade akibat cuaca buruk, karena tidak adanya alat deteksi dini untuk meminta warga mewaspadainya.

"Geografis di Kabupaten Sangihe, Talaud dan Sitaro dengan ratusan pulau membuat pemerintah sulit melakukan langkah evakuasi, sehingga perlu peringatan dini bagi warga agar waspada," katanya.

Kepala Biro Pemerintahan dan Humas Pemprov Sulut Roy Tumiwa mengatakan, Gubernur Sulut SH Sarundajang telah meminta jajaran pemerintah kabupaten dan kota agar disampaikan kepada warga untuk mewaspadai ancaman bencana alam banjir dan longsor disertai gelombang laut tinggi.

"Pemerintah tetap sosialisasikan pada warga agar mewaspadai berbagai ancaman bencana seperti pemukiman di Daerah Aliran Sungai (DAS), daerah tebing tinggi hingga pesisir laut akibat gelombang laut," katanya.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2010/01/15/17290820/Daerah.Kepulauan.Butuh.Alat.Deteksi.Dini.Bencana

 

Getting Started

Perhimpunan ini dideklarasikan di Jakarta pada tanggal 5 Juni 2004, bertepatan dengan hari lingkungan hidup dunia, dilaunching pada tanggal 19 Februari 2005 di hotel Hilton Jakarta, dan menyelenggarakan Musyawarah Nasional pertama kali (Munas I)
pada tanggal 24 November 2007 di Jakarta.

Features

Perhimpunan ini didedikasikan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Perhimpunan akan mendorong upaya pemahaman terhadap sosio-kultural dan geo-ekologis Indonesia guna berkembangnya pengetahuan berbasis ke-Indonesia-an. Anggota perhimpunan berasal dari berbagai kalangan yang peduli pada lingkungan hidup, antara lain para akademisi, praktisi, pemerintahan dan penggiat masalah lingkungan.