Wapres: Budget Riset Lingkungan Ditambah PDF Print E-mail
Wednesday, 28 July 2010 08:00

wayanglingkungan

"Banyak cara mengenalkan dan melestarikan keanekaragaman hayati, antara lain melalui wayang. Ki Ledjar Soebroto, misalnya, mementaskan wayang kancil bertajuk Kancil Amongprojo di Pendopo Kepatihan Yogyakarta, Selasa (15/6) malam. Kegiatan yang digelar Badan Lingkungan Hidup Provinsi DI Yogyakarta tersebut, salah satu upaya dalam mengenalkan keanekaragaman hayati bumi Nusantara"

 

Wakil Presiden Boediono mengatakan, pemerintah berkomitmen akan terus menambah dana riset lingkungan untuk memberdayakan sumber daya hayati yang dimiliki Indonesia. Hal tersebut disampaikannya pada pembukaan simposium internasional Association for Tropical Biology and Conservation atau ATBC 2010, Selasa (21/7/2010) sore.

"Anggaran dana riset untuk manajemen lingkungan akan ditingkatkan," kata Wapres. Ia yakin ilmuwan bisa membantu pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya hayati Indonesia yang sangat kaya untuk kesejahteraan rakyat.

Dalam pidatonya, Wapres mengatakan, pemerintah menyadari bahwa keanekaragaman hayati di Indonesia sangat besar. Bahkan terbesar di dunia setelah Brazil dan Kongo. Keanekaragaman hayati tersebut merupakan harta karun yang masih tersimpan.

Menurutnya, perlu cara yang tepat untuk mengolah harta karun yang sangat kaya untuk kesejahteraan rakyat. Salah satunya dengan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia. Wapres juga mengatakan kerja sama dengan asing juga penting bagi pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut.

Sumber: Kompas

 

Getting Started

Perhimpunan ini dideklarasikan di Jakarta pada tanggal 5 Juni 2004, bertepatan dengan hari lingkungan hidup dunia, dilaunching pada tanggal 19 Februari 2005 di hotel Hilton Jakarta, dan menyelenggarakan Musyawarah Nasional pertama kali (Munas I)
pada tanggal 24 November 2007 di Jakarta.

Features

Perhimpunan ini didedikasikan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Perhimpunan akan mendorong upaya pemahaman terhadap sosio-kultural dan geo-ekologis Indonesia guna berkembangnya pengetahuan berbasis ke-Indonesia-an. Anggota perhimpunan berasal dari berbagai kalangan yang peduli pada lingkungan hidup, antara lain para akademisi, praktisi, pemerintahan dan penggiat masalah lingkungan.