Program Kerja PDF Print E-mail
Tuesday, 21 July 2009 10:26
DRAFT PROGRAM KERJA
PERHIMPUNAN CENDEKIAWAN LINGKUNGAN INDONESIA
(PERWAKU) 2008-2012


KEKAYAAN ALAM INDONESIA, SEDABAGAI SEBUAH PENGANTAR
Indonesia terdiri atas pulau-pulau sehingga disebut negara kepulauan. Jumlah pulau yang lebih dari 17.000 buah itu menandakan bahwa Indonesia merupakan suatu wilayah yang baik untuk pertumbuhan tanaman dan perkembangbiakan hewan. Beberapa faktor yang yang menyebabkan adanya keanekaragaman jenis tumbuhan adalah perbedaan tinggi, iklim dan keadaan tanah. Keanekaragaman tumbuhan dan kondisi lingkungan itulah yang juga mengakibatkan adanya keanekaragaman hewan.
Flora adalah semua jenis tumbuhan yang merupakan kekayaan alam suatu tempat. Dapat pula diartikan bahwa flora merupakan daftar inventaris kekayaan suatu tempat yang memuat nama semua jenis tumbuhan yang tumbuh di tempat itu. Di bumi ini jumlah flora yang ada meliputi 300.000 jenis tumbuhan dan kurang lebih 30.000 jenis (10 %) terdapat di kepulauan Nusantara.
Pembagian jenis flora berdasarkan faktor geologi meliputi flora di daerah Paparan Sunda (flora daerah Sumatera), flora di daerah Paparan Sahul (flora daerah Papua), dan flora di daerah peralihan (flora di daerah Sulawesi). Flora di daerah Paparan Sunda terdiri dari flora endemik, flora yang terdapat di pantai timur terdiri atas hutan mangrove dan rawa gambut, serta flora di pantai barat terdiri atas bermacam- macam vegetasi di ataranya meranti, kemuning, rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan rotan. Flora di Kalimantan memiliki kesamaan dengan flora di Sumatera, yaitu hutan hujan tropik, hutan gambut, dan hutan mangrove. Flora di daerah Paparan Sahul terdiri atas tiga macam, yaitu hutan hujan tropik, hutan jenis Pometia Pinnata (motea) atau yang memiliki varilibiras genetika yang tinggi seperti pohon sagu, pohon nipah, dan hutan mangrove. Flora di daerah peralihan berjumlah 4.222 jenis dan berkerabat paling dekat dengan flora di wilayah lain yang relatif kering, seperti Filipina, Maluku, Nusa Tenggara, dan Jawa. Tumbuhan yang berada di habitat pantai, dataran rendah, dan ultra basis lebih mirip dengan flora di Papua, sedangkan jenis tumbuhan gunung mirip dengan flora di Kalimantan. Daerah Sulawesi terdiri atas hutan hujan tropik, sedangkan di pantai terdiri atas tumbuhan mangrove, bangsa nipah, dan sebagainya. Flora di Sulawesi juga ada yang berasal dari Nusa Tenggara dan Jawa yang menunjukkan bahwa Selat Makasar pernah terbuka untuk hubungan masuknya flora dari kedua wilayah.
Pembagian flora berdasarkan iklim dan ketinggian tempat dapat dilihat dari jenis hutan. Jenis hutan di Indonesia dapat dibedakan menjadi hutan hujan tropis, hutan musim, hutan sabana, dan padang rumput. Hutan hujan tropis meliputi hutan hujan tanah kering terdiri dari hutan nondipterocarpeceal, hutan dipterocarpaccoo, hutan agathis campuran, hutan pantai, hutan belukar, hutan fegacceal, hutan casuarina, hutan penuh, dan hutan nothofogus. Disamping terdapat hutan hujan tanah kering juga terdapat hutan hujan tanah rawa terdiri dari hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, dan hutan payau (hutan mangrove). Hutan musim dapat digolongkan menjadi hutan musim gugur daun dan hutan musim selalu hujan. Hutan sabana digolongkan menjadi hutan sabana pohon dan palma serta hutan sabana casuarina. Padang rumput dapat digolongkan menjadi padang rumput iklim basah dan pada rumput iklim kering. Padang rumput iklim kering terdiri dari padang rumput tanah rendah, rawa rumput, padang rumput pegunungan, padang rumput berawa gunung, padang rumput Alpin, dan komunitas rumput dan lumut.
Pembagian wilayah fauna di Indonesia adalah sebagai berikut:
1)     Fauna Asiatic menempati Indonesia bagian barat sampai Selat Malaka dan Selat Lombok. Jenis hewannya terdiri atas hewan menyusui yang besar, seperti gajah, harimau, badak, beruang, dan tapir.
2)     Fauna Australiatic hidup di Indonesia bagian timur meliputi Irian Jaya dan pulau-pulau sekitarnya. Jenis hewannya adalah hewan menyusui yang kecil, seperti kanguru dan burung-burung berwarna.
3)     Fauna peralihan atau Wallacea mempunyai jenis fauna Asiatic dan Australiatic. Persebarannya terletak di wilayah antara kedua daerah tersebut dan jenis faunanya adalah kuskus, anoa, dan burung maleo.
Luas total areal kawasan Indonesia adalah sekitar 450 juta hektar dan 190 juta hektar diantaranya berupa daratan, dan 13,203 juta hektar diantaranya adalah luas areal pulau Jawa. Perairan teritorial yang luasnya 290 juta hektar, yaitu 70 persen dari luas kawasan, menjadikan Indonesia sebagai negara bahari terbesar di dunia. Peraian maritim Indonesia terdiri atas perairan dangkal di bagian barat dan  perairan dalam di bagian timur. Walaupun perairan dalam umumnya berupa perairan oligotrofik, namun karena adanya kegiatan vulkanologik di dasarnya maka dibanyak tempat terdapat gerak arus air naik yang dikenal dengan numbulan (upwelling) yang menjadikan perairannya subur.
Data-data yang disebutkan di atas sudah sepatutnya kita kelola dengan senantiasa mengendalikan dan mengatur susunan dan interaksi antar komponen lingkungan, memudahkan dan memperbaiki serta mengefektifkan mekanisme kompensatif antar komponen lingkungan. Disamping itu kita harus mencegah dan menghilangkan intervensi manusia yang merugikan dan usikan yang berlebihan.


UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Sumber daya alam vegetasi/hutan, lahan, tanah dan air, merupakan kekayaan dan modal dasar pembangunan bangsa yang sangat vital. Oleh karena itu agar dapat didayagunakan secara berkelanjutan maka sumber daya tersebut harus dikelola dengan cara yang sebaik-baiknya. Hal ini sejalan dengan semakin meningkatnya taraf hidup rakyat, bertambahnya jumlah penduduk dan semakin meningkatnya kegiatan pembangunan yang telah mendorong semakin meningkatnya permintaan terhadap bahan-bahan kebutuhan yang dihasilkan dari berbagai kegiatan pemanfaatan sumber daya alam seperti pertanian, pertambangan energi, dan sebagainya.
Disamping itu kegiatan pembangunan non pertanian yang memerlukan lahan juga terus meningkat, seperti perumahan, pariwisata, peternakan/budidaya, prasarana jalan dan sebagainya. Padahal sumber daya alam terutama lahan yang tersedia untuk keperluan tersebut terbatas, sehingga jika dalam pendayagunannya tidak disertai dengan upaya-upaya untuk mempertahankan fungsi dan kemampuannya akan menimbulkan kerusakan dan mengancam kelestariaannya.
Keberadaan sumber daya alam selama ini masih dianggap sebagai sesuatu yang disiapkan Tuhan untuk manusia, sehingga dalam mengeksploitasinya dapat dilakukan sesuai dengan keinginan tanpa memperhatikan batas-batas yang harus dipatuhi. Paradigma tersebut masih dimiliki oleh sebagian besar masyarakat saat sekarang ini, walaupun sudah ada insan-insan lingkungan yang mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memperjuangkan upaya pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana.
Dalam pengelolaan lingkungan, pandangan manusia cenderung bersifat antroposentris, yaitu melihat permasalahan dari sudut kepentingan manusia. Walaupun tetap memperhatikan tumbuhan, hewan dan lingkungan abiotik, namun perhatian itu secara eksplisit maupun implisit dihubungkan dengan kepentingan manusia. Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan misalnya, dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewan itu dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik materiil untuk keperluan fisik maupun non materiil misal untuk kegunaan estetika.
Kompleksitas permasalahan lingkungan mutlak memerlukan suatu pengelolaan yang tepat dan terpadu. Pencapaian pembangunan berkelanjutan hanya dapat dilakukan melalui pengelolaan yang terpadu berbasis ekosistem dan masyarakat. Pendekatan pengelolaan terpadu berbasis ekosistem hendaknya didasarkan pada dinamika, fungsi dan interaksi antar komponen biofisik ekosistem, sedangkan pendekatan berbasis masyarakat lebih menitikberatkan pada inovasi dan aspirasi lokal.
Berbagai permasalahan lingkungan memberikan gambaran bahwa dimasa mendatang diperlukan perencanaan dan pengelolaan yang lebih baik, baik oleh pemerintah, masyarakat maupun perusahaan. Seringkali permasalahan terjadinya dampak negativ terhadap lingkungan adalah akibat dari lemahnya kesadaran, wawasan serta penataan dan penegakkan hukum. Oleh sebab itu, upaya peningkatan wawasan, peningkatan kapasitas dan peranserta aktif tidak hanya ditujukan bagi salahsatu pihak, tetapi bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).
Secara umum sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup. Hal tersebut dimaksudkan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindakan melindungi dan membina lingkungan hidup. Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa merupakan suatu efek positif dari upaya melestarikan fungsi lingkungan hidup dengan senantiasa mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.
Dengan melihat banyaknya permasalahan lingkungan yang terjadi, sehingga beberapa ahli ilmu lingkungan membentuk suatu wadah yang dapat dijadikan sebagai media untuk memperjuangkan pencapaian sasaran pengelolaan lingkungan tersebut, Wadah tersebut dikenal dengan nama Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia (PERWAKU) yang merupakan organisasi profesi dan ilmuwan lingkungan hidup yang mandiri dan bergerak dibidang lingkungan hidup. Lahirnya organisasi ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk menyelamatkan lingkungan hidup dari kerusakan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia itu sendiri yang kurang memahami masalah lingkungan hidup. Oleh sebab itu, upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan merupakan faktor yang harus dipertimbangkan secara sungguh-sungguh.
Untuk menunjang peran Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia (PERWAKU) tersebut, maka perlu disusun Rencana Strategis (Renstra) Program Tahunan 2008-2012. Strategi yang akan ditempuh diselaraskan dengan tujuan jangka panjang PERWAKU dalam kerangka membangun Indonesia yang adil, makkur, dan arif lingkungan.



DASAR PEMIKIRAN
Bahwa untuk melaksanakan tujuan organisasi dalam:
1.    Mengabdi pada upaya penyelamatan lingkungan hidup di Indonesia tanpa mengorbankan usaha pembangunan nasional;
2.    Menjadi wadah untuk mempersatukan para ilmuwan lingkungan dan ilmuwan yang menaruh minat besar pada masalah-masalah lingkungan hidup;
3.    Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi lingkungan, terutama yang terkait dengan   lingkungan Indonesia;
4.    Memasyarakatkan kesadaran, wawasan, dan pengetahuan, mengenai lingkungan hidup yang berkelanjutan di Indonesia.


VISI
Membangun upaya bersama untuk menyelamatkan lingkungan hidup dari kerusakan akibat kegiatan manusia.


MISI
1.    Menjadi wadah bagi cendekiawan dan ilmuwan bagi upaya penyelamatan lingkungan hidup.
2.    Pada Tahun 2014 telah terwujud peletakan dasar-dasar dalam upaya membangun masyarakat Indonesia yang ail, makmur, dan arif lingkungan


STRATEGI PENCAPAIAN VISI DAN MISI
1.    Meningkatkan akses informasi seluruh anggota dan pemangku kepentingan dalam berbagai permasalahan lingkungan dan pembangunan.
2.    Membangun kemitraan yang efektif melalui kerjasama dengan pemerintah, masyarakat dan sektor swasta guna memaksimalkan sumber daya yang tersedia, serta meningkatkan koordinasi dalam perencanaan dan kegiatan.
3.    Mendorong keterlibatan masyarakat setempa dalam setiap upaya penyelamatan lingkungan, pelestarian sumber daya alam, dan kegiatan pembangunan yang berkelanjutan.


SASARAN
1.    Perwaku menjadi wadah yang andal bagi kiprah para cendekiawan lingkungan di Indonesia dalam upaya penyelamatan lingkungan.
2.    Tercapai sinergi dan kemitraan dalam setiap upaya yang dilakukan.
3.    Terciptanya good governance dalam setiap kegiatan pengelolaan lingkungan


POKOK-POKOK PROGRAM KERJA
Menyadari Perwaku sebagai organisasi yang sedang merintis eksistensinya, maka program kerja organisasi diprioritaskan untuk mencapai:
1.    Penguatan Organisasi
Diwujudkan dalam bentuk melaksanakan agenda konstitusional organisasi, yaitu membentuk kepengurusan di pusat dan daerah serta melaksanakan kegiatan Musyawarah Wilayah (Muswil), Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil), Rapat Kerja Nasional (Rakornas) dan Musyawarah Nasional (Munas).
2.    Pengembangan Jaringan Kerja
Diwujudkan dalam bentuk meningkatnya kerjasama dengan stakeholder dalam mencapai tujuan organisasi.
3.    Penguatan Citra Organisasi
Diwujudkan dalam bentuk meningkatnya pengakuan stakeholder pada organisasi, yaitu dilibatkannya organisasi dalam pembentukan opini publik, pengambilan  kebijakan publik dan meningkatnya peran serta profesi ilmuwan lingkungan. Kegiatan yang dilakukan dalam upaya penguatan citra organisasi meliputi penyelenggaraan serial kajian lingkungan yang disesuaikan dengan isu yang sedang berkembang di masyarakat.
4.    Penguatan Profesi
Diwujudkan dalam bentuk tumbuhnya inisiatif dalam menyusun dan mengembangkan kepranataan yang kondusif bagi praktek profesi ilmuwan lingkungan sebagai upaya kegiatan nyata memperjuangkan kepentingan anggota. Dalam rangka penguatan profesi ini, organisasi berupaya mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi bagi para ilmuwan lingkungan.
5.    Pengabdian Masyarakat
Diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata sebagai upaya mencapai tujuan organisasi. Kegiatan ini meliputi penerbitan buku dan makalah-makalah lingkungan sebagai pedoman atau referensi bagi masyarakat dalam mengelola lingkungan hidup.
6.    Penyelamatan Lingkungan Hidup
Diwujudkan dengan mengadakan sosialisasi upaya penyelamatan lingkungan hidup melalui pemberian informasi-informasi lingkungan kepada masyarakat umum. Disamping itu organisasi berinisiatif untuk memberikan penghargaan lingkungan bagi institusi maupun perorangan yang memiliki dedikasi terhadap upaya penyelamatan lingkungan.
7.    Advokasi Publik
Dilakukan dengan pengembangan jaringan informasi kepada semua masyarakat.


PENUTUP
Perwaku menyadari bahwa upaya membangun secara berkelanjutan membutuhkan komitmen dan konsistensi yang sering kali berbenturan dengan kebutuhan pragmatis tentang kelangsungan hidup. Namun, upaya untuk melaksanakannya tetap menjadi keniscayaan agar hidup dan kehidupan terus berkelanjutan.
Atas rakmat Allah SWT. kita berharap niat luhur ini senantiasa mendapatkan rahmat-Nya dan menjadi kerja kita untuk kehidupan yang lebih sejahtera, adil, makmur. Amin
 

Getting Started

Perhimpunan ini dideklarasikan di Jakarta pada tanggal 5 Juni 2004, bertepatan dengan hari lingkungan hidup dunia, dilaunching pada tanggal 19 Februari 2005 di hotel Hilton Jakarta, dan menyelenggarakan Musyawarah Nasional pertama kali (Munas I)
pada tanggal 24 November 2007 di Jakarta.

Features

Perhimpunan ini didedikasikan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Perhimpunan akan mendorong upaya pemahaman terhadap sosio-kultural dan geo-ekologis Indonesia guna berkembangnya pengetahuan berbasis ke-Indonesia-an. Anggota perhimpunan berasal dari berbagai kalangan yang peduli pada lingkungan hidup, antara lain para akademisi, praktisi, pemerintahan dan penggiat masalah lingkungan.